Pernikahan Emas & Burung Yang Bisa Bicara
Tugiyo, usia nya sudah memasuki 72 tahun. Jelas, label “Bangkotan” pasti melekat pada nya. Di umur 22 tahun Ia menikahi seorang perempuan cina bernama Ling-Ling yang merupakan anak bos nya di toko beras, Usia Ling-ling lebih tua 6 tahun dari Tugiyo. sebenarnya mereka menikah terpaksa karena ia tak sengaja menabung sperma nya di Rahim Ling-ling tapi bisa dibilang Tugiyo cukup beruntung karena ia jadi kaya mendadak dan tak perlu kerja repot-repot. Ya, kejadian itu memang sudah lama berlalu dan tak perlu dibahas lagi.
Sekarang, pernikahan mereka sudah memasuki usia pernikahan emas yaitu 50 tahun. 4 orang anak sudah mereka lahirkan, 10 cucu sudah diciptakan dan 1 cicit sedang dalam proses, bisa dibilang untuk saat ini kehidupan Tugiyo cukup lengkap sebagai seorang lelaki. Tetapi ada satu malam yang tidak akan bisa dilupakan oleh seorang Tugiyo dan di malam itulah ia mempunyai “Teman Baru”.
Malam itu Tugiyo pergi ke sebuah sirkus di balai kota, dan tidak sengaja masuk ke tenda Cenayang dengan maksud ingin diramal soal masa depan. Saat masuk kedalam ternyata sang cenayang itu adalah mantan pelacur langganannya yang dalam beberapa tahun ini menghilang. Cenayang itu bernama Siti Sugemi dan ia bercerita kepada Tugiyo bahwa hilangnya dirinya dalam beberapa tahun adalah melakukan semedi demi mendalami ilmu di Gunung Bunder. Berkat itulah, Sugemi dapat meramal masa depan namun Tugiyo tidak peduli dengan cerita Sugemi dalam mendalami ilmu, ia menginginkan bercinta dengan Sugemi demi mengenang masa lalu.
“Gak boleh mas, ada pantangan” ujar Sugemi.
“Kenapa? kamu gak kangen sama burungku?”
“Aku takut mas Giyo kenapa-napa” jawab Sugemi dengan nada takut.
“Kenapa-napa apanya? Sekali-kali kan gak papa, udah lama loh kita gak ketemu” Ujar Tugiyo dengan wajahnya yang mulai mesum.
Sugemi terdiam, di fikiran nya terbayang burung Tugiyo yang besar dan lancip serta berwarna coklat mengkilap, burung yang dulu membuat ia ketagihan dan BYARR!!, Iman Sugemi pun buyar, mereka berdua bercinta di tenda kecil tersebut, penuh nafsu seperti gajah di musim kawin, grasak-grusuk.
“Aku gak mau tau, kalo sesuatu terjadi sama mas Giyo, ah ah” Sugemi mencoba mengingatkan namun sudah terlalu enak.
“Apa sih, tenang aja, aku ini kebal santet, apalagi dari dukun mu itu” Ujar Tugiyo sambil melakukan penetrasi.
“Bukan itu mas”
“Udah, tenang aja”
“Uh uh uh uhhhh”
“Ah ah ah ah ahhhhh”
“uhhhh”
“Aaaahhhhhh”
Pertemuan itu menjadi pertemuan terakhirnya dengan Sugemi dan ia tak pernah melihat nya lagi di sirkus Balai Kota. Sekarang, setiap pagi Tugiyo selalu mendengar ucapan “SELAMAT PAGI BOSS!” dari teman baru nya, si Burung. Sial betul ternyata pernyataan Sugemi soal pantangan itu benar, Semenjak bercinta dengan Sugemi, Burung Tugiyo sekarang memiliki mulut dan akal sehingga dapat bicara semau nya. Harusnya ia tidak bercinta dengan Sugemi, penyesalan memang selalu datang belakangan.
Si Burung adalah cerminan sifat Tugiyo di masa muda dulu, ceplas-ceplos, kotor dan cabul, ya walaupun sifat Tugiyo yang sekarang juga tidak jauh beda dengan dirinya di masa muda. Seperti saat malam tadi, Ling-ling meminta nafkah batin kepada Tugiyo. Tugiyo yang sudah tidak bernafsu dengan Ling-Ling menolak dengan alasan lagi malas berhubungan dan tiba-tiba si Burung mengoceh lalu mengejek Vagina Ling-ling yang bentuknya sudah seperti kembang tahu. Untungnya Ling-ling mengalami gangguan pendengaran dan tidak memakai alat bantu dengar, ia hanya merespon dengan Hah? Hah? Saja. Si Burung memang brengsek, pikir Tugiyo.
Begitupun berbagai kejadian lain nya yang membuat Tugiyo selalu ketiban sial gara-gara si burung dan gara-gara ulah si burung juga, sudah banyak perempuan yang meninggalkan jejak di pipi nya berupa ceplakan tangan berwarna merah. Sudah hampir satu minggu, Si Burung dan Tugiyo menjadi “Teman yang baik”
Dua hari lagi adalah hari pernikahan Emas Tugiyo dan Ling-ling. Keluarga besar merencanakan untuk merayakan semua ini, anak-anak Tugiyo akan datang ke rumah dan merayakan ini. Ling-Ling menyambut bahagia rencana ini namun Tugiyo merasa khawatir, ia khawatir soal si Burung. Tugiyo merenung di kamar mandi, ia dalam masalah besar jika Si Burung berbicara semaunya pada saat acara pernikahan emas itu.
“Aku harap kita bisa bekerja sama” Tugiyo Memohon.
“Aku tidak Janji”
“Aku bisa membuatmu impoten” Tugiyo mengancam.
“Coba saja kalau kamu berani”
“Ayolah satu hari saja kau tidak ngomong macam-macam bisa kan?”
Kali ini Tugiyo sudah sangat benar-benar memohon, karena akan ada anak dan cucu-cucu nya datang ke rumah. Ia bisa mampus kalau si Burung berbicara seenaknya seperti yang biasa ia lakukan.
“Aku tidak janji, aku ini merefleksi apa yang ada di fikiranmu” Si burung tetap tidak bisa memberi kepastian.
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Cobalah untuk berfikir bersih, mungkin kita bisa bekerja sama”
Tugiyo terdiam sejenak dan berfikir, memang ada benarnya perkataan si Burung. Jika ia tidak berfikir kotor, si Burung juga tidak akan membuat ulah.
“Baiklah akan kucoba”
Si Burung mengamini perkataan Tugiyo, Tugiyo memakai celana dan menyiram kotoran nya.
Acara Pernikahan Emas akan berlangsung dalam beberapa jam lagi. Tugiyo sudah mengenakan jas dengan rambut yang sudah di klimis dan rapih. Di fikiran nya hanya berfikir tentang bagaimana ia tidak berfikir kotor dan cabul, sehingga si burung tidak bikin ulah. Namun dia malah heran, si Burung tumben-tumben nya tidak mengoceh hari ini dan tidak mengucpkan “SELAMAT PAGI BOSS!” seperti biasanya, Tugiyo tersenyum menatap Si Burung.
Anak-anak Tugiyo beserta cucu sudah datang ke rumah, Acara pernikahan Emas berlangsung dan semua berjalan lancar. Acara tersebut membuat Tugiyo merasa benar-benar menjadi seorang kakek seutuhnya, bermain dengan Cucu-cucu, memberi wejangan kepada anak-anaknya soal kehidupan walau terdengar munafik dan sangat sekali tumben ia terlihat menyayangi Ling-Ling. Hari ini Tugiyo menjadi berfikir bersih dan positif.
Mungkin suasana yang membuat Tugiyo menjadi demikian. Suasana yang sebenarnya ia rindukan, suasana yang dirindukan oleh seorang pria di usia senja yang kesepian dan hidup dengan seorang istri yang kempot serta bolot, dan suasana tersebut yang pada akhirnya membuat dirinya lupa bahwa Burungnya bisa berbicara.
Adzan Maghrib sudah menjelang, serentak di seantero kota. Anak-anak beserta Cucu Tugiyo dan ling-Ling pamit pulang. Mereka berdua mengantarkan nya sampai teras rumah, tiba-tiba Tugiyo melihat Sugemi berjalan di jalanan di depan rumahnya. Spontan, Tugiyo langsung mencari sandal untuk mengejar Sugemi dan “EHHHM BOSS!”, Si Burung mendehem kencang yang membuat satu keluarga besar Tugiyo heran darimana suara itu berasal, Tugiyo cuma tersenyum kecut dan berkata dalam hati “ASU!” .
Arief Fauzan, 2016
Comments
Post a Comment