Ini Tentang Laki-Laki Hijau

Ini tentang Laki-laki Hijau, Terlahir dengan nama Siripit Suraken pada malam Jumat Kliwon. Sebuah Malam penuh mistis dan kisah-kisah sulit dipercaya. Ipit biasa ia disapa, lahir dengan lain daripada yang lain. Badan nya Hijau, full sampai burung-burungnya juga hijau. Orang tua nya pun pasrah punya anak seperti itu. Tapi bapaknya sedikit menyesal, mengapa ia menjadi vegetarian sejak umur 17 tahun. Ia berpikir Ipit bisa jadi hijau karena kebiasan nya makan sayur terutama kangkung, begitu fikir Budi Kangkung, panggilan beken bapaknya Ipit di Kampung.

Masa kecil Ipit tidaklah terlalu baik, ia lebih sering dimusuhi daripada di temani. Teman-teman nya banyak yang takut sama Ipit karena menurut gossip Ipit bukan lah anak dari Budi Kangkung melainkan Anak dari Buto Ijo yang tidak sengaja mensetubuhi ibunya. Budi Kangkung cuma bisa pasrah anaknya disebut seperti itu, semenjak bercerai karena lahirnya Ipit, Budi Kangkung merawat Ipit sendiri dengan penuh kasih sayang. Bisa dibilang walaupun ia sering menjadi sasaran hinaan teman-teman nya, setidaknya Ipit tetap mendapat kasih sayang yang layak oleh Orang Tua nya.

Sayangnya Ipit hanya merasakan kasih sayang Budi Kangkung cuma sampai 10 tahun umurnya saja. Budi Kangkung meninggal mendadak karena tersambar petir saat menanam kangkung. Warga Geger, terutama Brotoseno RT setempat, padahal beberapa jam yang lalu ia baru saja mengalahkan Budi Kangkung dalam permainan catur dan memutus rekor 10 kali menang main catur yang dimiliki Budi Kangkung, Sungguh kematian yang tragis menurutnya dan kemenangan yang dramatis tentunya.

Lupakan soal Brotoseno, Ini soal "Ipit". Ipit benar-benar terpukul, ia menangisi jenazah bapaknya sampai ke liang lahat. Sepanjang hari ia menangis, tidak mau makan dan cuma tiduran di sofa teras rumahnya. Warga terus mengaji di rumah Ipit tapi Ipit tetap tiduran di Sofa teras seperti patung Budha tertidur.

Brotoseno bersama jajaran RT dan tanpa sepengetahuan Ipit mengadakan rapat darurat. Mereka adalah Brotoseno, Burhan Bule dan Kartubi. Mereka merapatkan soal bagaimana selayaknya siapa yang mau merawat Ipit. Ini jelas hal yang memusingkan karena warga kampung tempat mereka tinggal menganggap Ipit adalah anak dari hasil guna-guna.

"Bagaimana kalau kita bawa ke Panti Asuhan?" usul Burhan Bule.

"Panti asuhan yang di pojok deket rawa itu pak?" tanya Kartubi.

Burhan Bule ngangguk, membenarkan.

"Jangan pak, itu Panti Asuhan islam - islam yang ngeri gitu loh pak, garis keras. Bisa jadi teroris itu anak dan Kita secara tidak langsung menjerumuskan. Duh dosanya besar, saya takut" Saut Brotoseno.

Mereka berempat kembali berfikir lalu ada Ibu Suendah nimbrung rapat darurat mereka.

"Kenapa gak di rumah salah satu dari bapak-bapak aja?" Suendah nyamber dengan nada nyinyir.

Empat orang itu terdiam, Ibu Suendah cabut sambil nyengir nyinyir seolah berhasil membuat mereka skakmat. Memang, tidak mungkin menitipkan Ipit kepada salah satu diantara mereka. Brotoseno memiliki 5 orang anak yang masih kecil-kecil dan jika ditambah Ipit ia merasa berat secara ekonomi, apalagi pekerjaan nya cuma seorang RT yang penghasilan nya dari uang hasil menilep pembuatan KTP dan surat kawin.

Bagaimana dengan Burhan Bule? apalagi dia, Burhan Bule tukang kawin, istrinya 3 orang dan tinggal satu rumah dengan anak yang para warga juga tidak tau pasti jumlahnya berapa. Jika ditambah Ipit, Burhan Bule merasa berat dan gak sanggup.

Kartubi? Kartubi mau saja tapi ia tiba-tiba ingat sebuah aturan dalam sebuah agama. Bahwasanya mengadopsi anak itu disarankan harus seagama, sedangkan Kartubi  adalah seorang protestan. Kartubi menolak, ia takut dosa dan tidak diberkahi.

Alasan Kartubi bisa dibilang tidak masuk akal dan mengada-ngada tapi masalah menitipkan Anak tidak segampang mengeja ini Bapak Budi & ini Ibu Budi. Mereka kembali berunding dan tercapailah satu keputusan.....

"IPIT AKAN MEREKA BAWA KE JAKARTA"

Buat apa? tidak tahu. Tapi menurut mereka, setidaknya di Jakarta akan lebih banyak peluang untuk bisa menitipkan Ipit, dan mungkin orang Jakarta yang katanya open minded itu jauh bisa lebih menerima Ipit daripada warga kampung sini. Dan tentunya,  mereka terlepas dari tanggung jawab. Lalu, mereka kembali berunding untuk siapa diantara mereka yang membawa Ipit ke Jakarta. Akhirnya Brotoseno lah orangnya karena dia secara finansial bisa dikatakan mampu untuk membeli tiket bis ke Jakarta pulang pergi.

Paginya, berangkat lah Brotoseno dan Ipit, naik bis kelas Ayam yang murah. Brotoseno membohongi Ipit jikalau mereka ke Jakarta akan menemui Paman Ipit. Perjalanan memakan waktu sekiranya 6 jam dan mereka berdua sampai di Kota Metropolitan.

Kini sampailah mereka di Jakarta, terminal senen adalah destinasi pertama.

Ini pertama kali Brotoseno dan Ipit melihat Jakarta, ternyata tidak sehebat dari foto Google. Sampah dimana-mana dan Polusi seperti mencekik kerongkongan. Mereka berputar berkeliling tanpa arah, sebenarnya bukan tanpa arah. Brotoseno menunggu waktu yang tepat  untuk meninggalkan Ipit, atau kasarnya "Membuangnya".

Berjalan nya Brotoseno dan Ipit ibaratnya adalah sebuah sirkus keliling. Semua orang memperhatikan mereka berjalan terutama memperhatikan Ipit. Brotoseno sih cuek saja, ia malah senang jadi pusat perhatian, biar kayak artis katanya.

Brotoseno dan Ipit kemudian melihat KFC. Restoran merah dengan bau ayam goreng yang menyengat telah sampailah pada hidung mereka. Perut Ipit terdengar keroncongan, Brotoseno melihat Ipit, ia iba dengan anak itu. Brotoseno kemudian melihat isi dompetnya, tak lebih hanya 150ribu. Tapi karena dia juga ingin dan sudah terhipnotis pula dengan bau ayam goreng, akhirnya mereka berdua makan di KFC.

Ini sudah hampir pukul 11 malam, Brotoseno masih belum menemukan waktu yang tepat untuk membuang Ipin. Lama-kelamaan ia malah menjadi tidak tega, sepanjang perjalanan Ipit terlihat diam saja, wajahnya sayu seperti lelah menjalani hidup. Wajah itulah yang membuat Brotoseno semakin tidak tega. Mereka berdua duduk bangku yang ada di trotoar, suasana jalan sudah tidak seramai tadi dan angin Jakarta pada jam tersebut jadi semakin lebih sehat. Mereka duduk berdua, tidak ada yang dibicarakan selain ekspresi lelah dan kaki yang mulai gemetar karena terlalu lama berjalan.

Ipit terlihat tertidur, ini adalah waktu yang tepat menurut Brotoseno untuk meninggalkan nya. Tapi rasa Iba itu masih ada, ia kemudian berfikir keras seperti orang melakukan telepati dan gayung pun bersambut. Ia melihat rombongan sirkus melewati nya. Sorak-sorak ramai dengan gegap gempita walau wajah orang dirombongan itu lelah. Brotoseno melihat Ipit yang hijau dan muncul ide brilian di kepala nya.

Brotoseno berlari menuju barisan terdepan untuk mencegat rombongan itu, ia berhasil mencegatnya. Truk ngerem mendadak, mengagetkan semua rombongan. Kepala sirkus turun, ia bernama Bandi Showbiz, seorang pemimpin sirkus, perawakan nya seram dan hitam legam namun ia terlihat kemayu.

"Heh kamu sudah gila?!!" Ucap Bandi dengan nada marah.

"Maaf Tuan, maaf aku sudah menganggu jalan kalian"

"Ya jelas menganggu, kamu mau buat kami dalam masalah?! hah?"

"Iya tuan, tenang sebentar. Aku disini cuma mau menitipkan anak kepada tuan?"

"Gila! memang kami panti asuhan?!" ketus Bandi Showbiz.

Brotoseno menarik Bandi Showbiz ke tempat duduk dimana Ipit tertidur. Saat melihat Ipit, seorang anak dengan warna hijau glossy menyala, Bandi Showbiz tertegun. Wajahnya seperti orang yang menemukan harta karun di dasar lautan.

"Bagiamana?" Tanya Brotoseno dengan penuh harap.

"hmmm, Kau jual berapa anak ini?"

Brotoseno kaget mendengar pertanyaan itu, "Tidak-tidak, aku hanya mau menitipkan anak ini kepadamu, aku tidak butuh uang, aku sudah punya cukup uang, aku bukan sindikat perdagangan anak. Anak ini yatim piatu, tidak ada yang mau mengurusnya".

Bandi Showbiz tersenyum senang, ia pun menyuruh anak buah nya menggendong Ipit yang tertidur lalu memasukan nya ke mobil.

"Tolong kau rawat anak ini Tuan untuk ku" ucap Bandi penuh harap.

"Tenang saja, aku akan membuat dia jadi Superstars hahaha"  Bandi tersenyum senang.

Brotoseno tersenyum, rombongan itu lalu pergi. Kini, Selesai sudah misi Brotoseno di jakarta dan ia bisa pulang ke kampung dengan tenang. Ipit? ia akan memulai kehidupan baru nya sebagai seorang atraksi sirkus.

TO BE CONTINUED......




Comments

Popular posts from this blog

Pernikahan Emas & Burung Yang Bisa Bicara