Perginya Sebuah Kenangan Di Kala Senja


Jakarta 2015, pada sebuah sore menjelang maghrib di bilangan jembatan kuningan, melipirlah sepeda motor bermerk suzuki satria F yang ditunggangi sepasang kekasih dimabuk cinta bernama Muldani dan Maesaroh. Muldani seorang tukang parkir minimarket, biasa datang kesini untuk sekedar beristirahat sambil melihat senja, baginya melihat senja adalah sebuah kenikmatan apalagi bila ditambah rokok kretek. Namun, Hari ini menjadi spesial baginya, karena ia tidak melihat senja itu sendiri, ia bersama kekasihnya Siti Maesaroh kasir minimarket tempat ia markir yang baru dipacari nya selama seminggu untuk sama-sama menikmati senja.  
“Abang, kenapa ajak eneng ketempat ini?” tanya Maesaroh Manja.
“Abang mau ajak eneng liat matahari tenggelam, soalnya abang lagi tenggelam dalam cinta eneng nih” jawab Muldani sok gagah.
“Ahh Abang bisa aja”
“Hehehe, kalo dari sini ngeliatnya bagus neng”
“oh, kayaknya eneng juga bakal tenggelam deh dalam cinta abang kalo kayak gini”
“Ah eneng bisa aja, abang jadi malu nih”
“Abis Abang gombal duluan” Maesaroh tertawa genit.
“Gombal itu kan naluri lelaki neng”
           Maesaroh tersenyum geli ketika digombali Muldani, mereka sekarang sudah duduk bersebalahan di motor dan keduanya menatap langit yang sedikit demi sedikit mulai kemerahan. Tangan Muldani memegang tangan maesaroh, Maesaroh merespon dengan menggengam erat tangan muldani. Mereka terbuai dalam cinta, ah pokoknya serasa dunia milik berdua.
“Bang nanti kalo langitnya udah merah-merah, kita poto selfie ya”
“Buat apa?”
“Buat kenang-kenangan lah bang”
“Oh iya juga ya” Muldani nyengir.
           Wajah keduanya tampak bahagia seperti pintu surga firdaus sudah ada di depan mata, Maesaroh menyenderkan kepalanya ke pundak Muldani, Muldani merespon dengan mengelus kepala Maesaroh dengan halus dan penuh cinta. Tanpa banyak bicara, keduanya saling menunjukan rasa cinta dengan perbuatan. Suara-suara klakson mobil dan motor yang mewarnai keruwetan kota berubah menjadi suara harpa yang dimainkan oleh para cupid. Kemesraan maha dahsyat, dua insan manusia dimabuk cinta.
            Langit sudah berwarna kemerahan matahari sudah mulai tenggelam, sesuai permintaan Maesaroh, mereka berdua beranjak dari motor untuk menuju pembatas jembatan lalu berfoto dengan latar belakang matahari tenggelam. Tampak pose maesaroh menaruh telunjuk di bibir dengan wajah manja  dan Muldani manyun sambil menyosor ke pipi Maesaroh. Dilanjut dengan pose mesra ala-ala sejoli dalam sinetron Hingga tak terasa Adzan Maghrib sudah berkumandang secara serentak.
“Neng, udah maghrib, kita pulang yuk” ajak Muldani sembari menuju motornya.
“Nanti bang, langitnya lagi bagus ada biru-birunya, eneng mau foto dulu buat di upload di facebook”
           Muldani mengiyakan dan ia menuju motor lebih dahulu. Terlihat  wajah Maesaroh yang bahagia saat sedang memotret langit yang berwarna kemerahan bercampur dengan kebiruan. Muldani turut bahagia melihat kekasihnya seperti itu, baginya tidak ada yang lebih bahagia jika seorang lelaki dapat membahagiakan perempuan yang dicintainya dan Muldani berhasil melakukan itu.
           Sesi memotret langit Maesaroh sudah selesai, Muldani menyalakan motornya. Saat menuju motor Maesaroh tersandung batu, terjatuh dengan muka lebih dulu dan sialnya Handphone miliknya terlempar masuk kedalam sungai dibawah jembatan. Muldani kaget  bukan kepalang, ia langsung beranjak dari motornya untuk menolong pujaan hati nya. Maesaroh tampak histeris karena handphone nya kecebur sungai, Muldani Cuma bisa menenangkan kekasihnya.
Kini, kenangan mereka berdua bersama senja telah pergi, bersama derasnya air sungai dan Maesaroh? wajahnya codet sedikit tapi Muldani tetap cinta.
Arief Fauzan, 2016

Comments

Popular posts from this blog

Pernikahan Emas & Burung Yang Bisa Bicara